Disiplin 2
DISIPLIN
Membuat kesalahan adalah bagian dari menjadi orang tua dan
dissiplin adalah dimana saja kita dapat sering2 tergelincir. Disiplin adalah
salah satu tugas parenting yang paling menakutkan.
Untuk dapat melakukannya dengan baik kita harus
menjadikannya : Jelas, masuk akal dan tidak bisa ditawar, meskipun saat itu
kita merasa : marah, frustasi, atau malu. Memang benar disiplin itu berat.
Apakah anak berkebutuhan
khusus perlu juga disiplin?
Saat kita memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK),
mungkin kita akan bertanya-tanya,"Apakah anakku bisa melakukan hal
tersebut?", termasuk dalam hal disiplin, mungkin kita akan memberikan
lebih banyak 'keringanan' karena khawatir ABK kita tidak mampu melakukan suatu
hal dengan disiplin.
Lalu pertanyaannya adalah apakah ABK bisa
didisiplinkan?
Jika kita berpikir bahwa anak abk tidak bisa
disiplin, ini seperti mengatakan pada mereka,"Aku tidak percaya kamu bisa
belajar.", Dan jika kamu tidak percaya, bagaimana anak tersebut bisa
percaya bahwa mereka mampu?
Disiplin - mengkoreksi perilaku anak, menunjukkan
pada anak:
1. mana yang baik dan mana yang buruk
2. mana yang bisa diterima, mana yang tidak bisa
diterima
hal ini merupakan salah satu hal terpenting, di
mana orang tua bisa menunjukkan kepada anak bahwa mereka mencintai dan peduli
terhadap anak-anaknya.
Saat ini disiplin paling nyata yang bisa dilakukan
adalah
1. pola makan
2. pola tidur
3. Etika (kemandirian) : mandi, bertamu, bermain,
di masyarakat, berpakaian dll.
Pesan kedisiplinan yang biasanya diterapkan
disekolah untuk anak berkebutuhan khusus yakni :
1. Memakai baju seragam sekolah dengan baik dan
benar sesuai jadwal.
2. Tidak datang terlambat / tepat waktu.
3. Mengerjakan tugas dirumah.
4. Selesai sekolah harus langsung pulang ke
sekolah.
Pada penerapan pesan kedisiplinan untuk anak
berkebutuhan khusus memerlukan perhatian dan pengawasan. Anak yang berkebutuhan
khusus tidak dapat fokus pada satu titik, karena itu memerlukan strategi untuk
bisa menerapkan pesan kedisiplinan, berikut merupakan strategi yang digunakan
untuk menumbuhkan kedisiplinan anak :
1. Jadi ramah namun tegas
Kita tidak harus bersikap keras pada anak-anak,
namun tegas dan konsisten.
2. Memberi instruksi dengan jelas.
Seringkali konflik muncul karena anak tidak mampu
menguraikan instruksi. Petunjuk yang tidak jelas dan kurang spesifik dapat
menyebabkan ketidaksiplinan.
3. Membuat penjadwalan dan social story mengenai
aktifitas dan tempat.
Hal ini untuk membangun rencana disiplin diruangan,
di rumah, sekolah masyarakat dan berpegang teguh terhadap peraturan yang sangat
penting untuk memastikan kenyamanan belajar.
4. Melihat ke spesialannya serta penanganannya
dalam situasi dan kondisi dengan melihat tingkat mental, sosial dan emosinya.
Anak berkebutuhan khusus bila ditinjau dari segi
mental siswa tersebut memiliki tingkat IQ yang dibawah rata-rata anak normal.
Dilihat dari segi sosial, siswa ini biasanya cepat tersinggung, segan bergaul
dan senang berbuat jahat/asosial. Dari segi emosi anak yang berkebutuhan khusus
menjadi segan bergaul, cepat kecewa, suka mengeluh, cepat tersinggung, dan
pemurung.
Respon anak terhadap pesan kedisiplinan sangatlah
beragam. Mulai dari respon yang positif seperti senang tapi malu, ada juga yang
merespon negatif pesan kedisiplinan tersebut karena mereka terkendala dengan
faktor eksternal seperti lingkungannya yang tidak mendukung untuk disiplin.
Dalam respon anak ini peran orang tua juga turut menentukan apakah anak bisa
menerima pendisiplinan dengan baik atau tidak.
Evaluasi adalah hal yang sangat perlu dilakukan
karena dengan mengevaluasi kita akan mengetahui apakah kegiatan yang kita
lakukan dapat berjalan sesuai dengan rencana kita atau malah sebaliknya tidak
dapat berjalan dengan baik. Dan yang paling penting setelah
dievaluasi..pengulangan dan pengingatan kembali hingga tahap anak memahami dan
melakukan dengan mandiri menjadi tujuan akhir.
Mengapa perlu diingatkan?
Kita harus sering mengingatkan kepada mereka karena
anak berkebutuhan khusus mempunyai memory yang tidak sama dengan anak pada
umumnya sehingga harus diingatkan dengan terus menerus.
Caranya :
1. Visualisasi (penjadwalan kegiatan)
2. Praktek (melakukan kegiatan bersama-sama)
3. Auditory (mendengarkan perintah berulang-ulang_
4. Kombinasi antara visual dan auditory
Penerapan pesan kedisiplinan memiliki tujuan
tersendiri.
Tujuan kedisiplinan adalah :
a. Memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang
tidak menyimpang.
b. Mendorong anak melakukan yang baik dan benar.
c. Membantu anak memahami dan menyesuaikan diri
dengan tuntutan lingkungannya dan menjauhi melakukan hal-hal yang dilarang oleh
sekolah.
d. Anak belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan
yang baik dan bermanfaat baginya serta lingkungannya.
Dalam hal kedisiplinan ini tentunya kita memiliki
tujuan untuk kebaikan anak. Namun jika caranya salah, justru berpengaruh buruk
pada tumbuh kembang anak. Kenali dan segera koreksi kesalahan tersebut.
Sebagai guru dan orang tua kita memang tidak
sempurna, tak jarang kita melakukan kesalahan termasuk saat mendisiplinkan
anak. Namun bukan berarti kita tidak berusaha melakukan yang terbaik untuk
anak. Kesalahan2 inilah yang perlu kita kenali diantaranya :
1. Tidak kompak (ortu-team). Biasanya ini terjadi
karena kita dan pasangan tetap mempertahankan pandangan masing-masing dalam
mendisiplinkan anak. Hal ini membuat anak kita bingung mengikuti aturan yang
mana..bahkan tidak sedikit dari mereka justru memanfaatkan hal ini. Misalnya
anak tidak patuh dengan papanya karena terlalu memanjakan, sebalikya anak patuh
dengan mamanya sebab tegas atau sebalikya. Dibutuhkan kompak dan tegas.
2. Kurang konsisten, padahal butuh waktu setidaknya
3 minggu untuk anak mengikuti aturan baru. Ketika kita sudah membuat aturan
hanya boleh main games saat akhir pecan, tepati hal tersebut dan tidak
memberikelonggaran.
3. Aturan hanya diketahui berdua, sementara ada
pengasuh, kakek, nenek, om, dan tante yang turut terlibat dalam pengasuhan
anak. Mereka perlu tau aturan apa yang berlaku di rumah. Beritau mereka bahwa
aturan itu yang berlaku di rumah kita bukan peraturan dari orang lain.
4. Berpikir kenakalan hanya fase pelajaran.
“menganggap ringan perilaku anak sebagai kenakalan sesaat yang akan hilang
ketika dia usianya bertambah. Tidak kita harus menghentikan kebiasaan buruk
sesegera mungkin sebelum berubah menjadi kebiasaan.
5. Menggunakan metode disiplin yang tidak tepat.
Memukul anak bisa mengganggu perkembangan emosi dan kebiasaan anak.
Mempermalukan, menggoda, merendahkan anak bisa merusak kepercayaan
dirinya.
6. Tidak memberikan penjelasan. Anak harus
diberitahu alas an kita membuat aturan. Sesederhana mungkin sampaikan ke anak2
spesial kita. Anak perlu tau dan membedakan perbuatan baik dan buruk.
7. Menjadi contoh yang salah apa yang anak lihat
adalah apa yang ia tiru. Jadi bila kita ingin merubah perilaku anak menjadi
baik, kita juga harus serius melihat perilaku kita sendiri.
Beberapa penerapan disiplin yang harus kita hindari
:
1. Merasa “Satu Gaya” sudah cukup
Gaya orang jaman dahulu dalam mendisiplinkan anak
sudah berbeda dengan jaman sekarang..sebab lingkungan juga membentuk yang
berbeda atas tumbuh kembang anak. Orang tua harus mencari tahu bagaimana cara
yang tepat dalam mendisiplinkan perilaku anak. Berbeda keadaan berbeda cara.
Berbeda anak, berbeda cara. Berbeda usia berbeda cara.
Memahami dimana anak kita berada saat ini adalah
kunci dalam memilih pendekatan disiplin yang paling tepat utnuk mereka.
2. Bertindak berlebihan
Hukuman atau konsekuensi yang kita terapkan pada
anak saat melanggar aturan, selayaknya diberikan sesuai dengan pelanggaran yang
dilakukan dan BUKAN pada seberapa kesal/marah kita pada saat itu.
3. Terlalu lembek
Tidak terlalu lembek saat menerapkan konsekuensi.
Perintah atau larangan hanay berupa kata2 saja..
Untuk setiap kesalahan, tetap harus diberikan
konsekuensi. Disesuaikan level, usia, temperamen dan level penerimaan anak atas
konsekuensi. à
memotong jatah waktu nonton tv, memotong uang saku, menahan sementara
mainannya, time out, dll
4. Tidak konsisten
Konsisten itu bila kita bilang Tidak, maka sampai
selanjutnya katakan Tidak.
5. Selalu berfokus pada hal2 yang negatif
Jika kita ortu perfeksionis kita akan repot bila
perilaku anak Tidak sesuai dengan hati kita.
Solusi : sedapat mungkin berfokus pada target dan
kemampuan yang akan dicapai, tanpa menuntut menjadi sempurna.
Disiplin itu adalah tentang menjaga anak-anak tetap
aman dan membantu mereka untuk tumbuh menjadi : orang dewasa yang baik, sukses,
mandiri dan bahagia.
Inti dari disiplin adalah Cinta. Kita menerapkan
disiplin pada anak, karena kita benar2 cinta pada mereka.
Riska Timothy
Komentar
Posting Komentar