Sosialisasi

SOSIALISASI
Mei 2018
Manusia adalah makhluk sosial, untuk dapat bertahan hidup. Manusia perlu mensosialisasikan dirinya dengan orang lain mengenai cara hidup, penyesuaian diri agar dapat berfungsi bagi orang lain.
Dalam hal ini manusia harus mampu beradaptasi dengan baik terhadap masyarakat sekitar, karena jika tidak maka individu tersebut akan dikucilkan oleh masyarakat. Untuk itu sangat penting bagi kita dalam mempelajai aspek-aspek yang berkaitan langsung dengan proses sosialisasi di ingkungan masyarakat.

Perkembangan Sosial manusia memiliki 2 aspek :
1. Proses belajar sosial atau proses sosialisasi.
• Sifat ketergantungan manusia dengan manusia yang lain
• Sifat adaptabilita dan intelegensi manusia
   Proses ini berlangsung secara terus menerus (sepanjang hidup)

2. Proses pembentukan kesetiaan sosial.
• Adanya pengaruh dengan proses sosialisasi
Dalam proses sosialisasi akan berkembang kesetiaan seseorang terhadap keluarga maupun kelompok atau organisasi tertentu.
Keluarga merupakan kelompok sosial terkecil dalam kehidupan manusia. Dalam lingkungan keluarga manusia pertama kali belajar beradaptasi dan berinteraksi dengan orang lain. Untuk itulah, dalam menciptakan individu yang mampu melakukan proses sosialisasi dengan baik dibutuhkan lingkungann keluarga yang baik.
Dengan bersosialisasi individu dapat mengerti, memahami dan mempelajari tingkah laku, kebiasaan, ketrampilan dan sebagainya.
Apa anak berkebutuhan khusus juga perlu bersosialisasi?
Bagaimana proses sosialisasi pada Anak Berkebutuuhan Khusus?
Dimana seharusnya anak-anak memulai proses sosialisasi?
Setiap anak tetap harus pergi sekolah untuk bersosialisasi.
 Benar atau Salah ?
Tantangan terbesar bagi anak-anak berkebutuhan khusus dalam bersosisalisasi.

 Perlu stimulasi, perlu latihan, perlu konsistensi dan rutinitas secara berkala untuk membiasakan anak berkebutuhan khusus ini dalam bersosialisasi. Kendala –kendala dalam proses sosialisasi Anak berkebutuhan khusus :
1. Ketidak percayaan diri
2. Cuek
3. Keluarga yang kurang mendukung
4. Kelemahan fisik
5. Lingkungan yang memandang sebelah mata/lingkungan yang memanfaatkan
Penerimaan diri dalam keluarga mndukung proses sosialisasi anak ke masyarakat. Beberapa hal yang dapat para keluarga lakukan :
1. Sebagian besar anak berkebutuhan khusus akan berhasil jika ada seorang dewasa yang berlaku sebagai pemimpin di tempat bermain, dimana orang dewasa ini menyadari kebutuhan anak dan mampu mengajaknya masuk ke dalam kunpulan teman-temannya. Jika anak dibiarkan seorang diri, ia akan cenderung hanya berdiri dan menonton.

2. Bantu anak kita untuk berteman dan mengundang anak lain ke rumah dan pastikan bahwa teman ini menikmatinya (denga bantuan dan arahan kita). Anak perlu mengenal lebih baik siap teman-temannya demikian pula dengan kita.

3. Pastikan anak kita dapat membedakan dengan baik perilaku sosial yang tepat dan yang tidak tepat, serta bertingkah laku sesua dengan perilaku sosial yang tepat/norma tersebut. Anak kita ingin diterima sebagai anak yang keren.

4. Cermati sikap guru dan sekolah atau lingkungan masyarakat terhadap ejekan dan intimidasi terhadap anak (teasing dan bullying). Lingkungan yang tidak baik akan memberikan toleransi terhadap hal ini. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya intimidasi, namun sedari awal harus benar-benar disadari, dipantau dan diobservasi.

5. Berbincang-bincanglah dengan anak kita tentang hari-hrinya di sekolah, di tempat kursus, di gereja atau di setiap situasi yang membuatnya tertekan atau senang, kecewa, bahagia, dll. Bantu anak untuk mengerti dan tunjukkan padanya.ia harus menyadari dan mengerti pilihan-pilihan ini.

6. Jika anak mengalami kesulitan atau stress, peru disediakan sebuah arena bagi dia untuk menyepi, untuk merasa lebih santai aau seseorang yang dapat ia ajak bicara. Pastikan keluarga, guru memahami kebutuhannya dan anak mengerti kemana ia harus pergi.

7. Pekerjaan-pekerjaan sehri-hari tetap harus dimonitor. Jangan anggap sepele,karena anak-anakke butuhan khsusu kurang mampu dalam mengatur pekerjaan, tertinggal dalam mengerti instruksi verbal dan panic saat gagal.

8. Berikan ia buku harian dan pastokan anak dapa menuliskannya di buku itu jika anak merasa kesulitan mengkomunikasikannua. Juga kebutuhan akan pekerjaan-pekerjaan rumah yang harus dilakukan di buku harian tersebut.

9. Ajarkan anak merencanakan waktu belajar, melakukan kegiatan, dan menggunakan jadal pada saat anak melakukan pekerjaan rumah.

10. Bantu anak dalam mengarahan pekerjaan yang harus dilakukan, namun bukan mengerjakan untuknya.

11. Beri kesempatan anak untuk mencari dan mendapatkan informasi dari orang lain dengan proses sosialisasi sedrhana. Memiliki kemampuan bertanya, memiliki etika dan tata karma dalam berkomunikasi, memahami bahasa orang lain, dan mampu mengontrol dirinya. Semakin dewasa anak –anak, semakin ia menyadari bahwa ia berbeda dengan teman-emannya. Hal ini membuat anak tertekan dan mungkin menghancurkan harga diri dan kepercayaan dirinya.

12. Bila anak mengalami kegagalan..jelaskan bahwa itu bukan salahnya atau tidak apa-apa salah dan bisa diperbaiki kembali. Sebab anak harus tau bahwa itu bisa saja terjadi pada dirinya dan juga pada orang lain.

13. Jelaskan pertumbuhannya bahwa sekarang mereka berangsur remaja dan juga menuju ke dewasa dan aturan-aturan saat usia dewasa peru dijelaskan.orang tua belajar ke tahapan “MENDAMPINGI ANAK KEBUTUHAN KHUSUS MENJADI DEWASA”
Dewasa Spesial mengerti bahwa banyak sekali hal-hal yang dapat dilakukannya untuk membantu dirinya sendiri.

14. Bantu anak menyadari emosi yang dihadapinya dan bagaimana mengatasinya. Ia akan menyadari bahwa ia akan lebih tersinggung disbanding tema-temannya. Ia perlu mengontrol tingkah lakunya.

15. Pelajari strategi yang digunakan dalam mengelola rasa marah (anger management). Hingga berRedakan rasa marahnya dengan pernyataan-pernyataan positif. Berikan imbaln pada saat ia mampu mengatasi emosinya dengan baik.

16. Anak kebutuhan khusus perlu memahami situasi yang akan membuatnya tertekan, misalnya suara atau kerumunan orang. Ia harus dapat belajar menahan diri atau menarik diri sebelum amarahnya meledak.

17. Beberapa anak perlu mengontrol juga gerakan-gerakan repetitive. Misalkan dengan jalan memasukkan tangannya ke dalam saku. Selain itu juga perlu memahami kecemasannya dan belajar untuk menunggu tanpa harus berkembang menjadi rasapanik dengan cara menarik diri, dialog dengan diri sendiri yang positif atau relaksasi atau melakukan aktifitas seperti membaca atau komunikasi.

18. Beberapa anak memiliki ketakutan untuk gagal dan mengalami kekuatiran. Bombing anak untuk mencoba prmainan yang melibatkan gaga dan berhasil/kalah dan menang. Misalnya bermain ular tangga, bermain kartu, bermain uno, dll.
Persiapkan anak menuju Remaja dan Remaja menuju Dewasa. Semakin dewasa semakin diperlukan tanggung jawab atas perilaku maupun konsekuesi dari apa yang anak lakukan. Kita perlu peraturan dan anak harus mematuhinya, tetapi anak harus tetap dihargai sebagai individu yang memiliki hak untuk memutuskan sesuai pikirannya.
1. Ingatkan akan aturan dan konsekuensinya, darpada memerintahkan untuk berperilaku tertentu.
2. Anak keb. Khusus juga memerlukan konseling. Jangan terlalu mengatur saat kita memberi saran atau masukan. Biarkan anak memutuskan, supaya anak mendapat mafaat sekaligus melatih anak belajar atas konsekuensi yang telah dilakukannya.
3. Ingatkan diri kita sendiri bahwa anak sedang dalam proses belajar menjadi dewasa dan kita tidak selalu ada di sana untuk menata perilakunya. Anak tersebut membutuhkan jadwal, cerita sosial dan contoh yang membantunya melakukan sendiri.

Riska Timothy

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dunia Di Balik Kaca

Autisme DSM 5